Cloud Collaboration. Mana yang Tepat untuk Anda?

blog-Cloud-Collaboration-Which-is-Right-for-You

Table of Contents

Apakah Anda merasa masih jauh dari Layanan Cloud?

Dunia terus berubah. Dulu banyak orang berkata, “Itu tidak ada hubungannya dengan dunia saya, pekerjaan saya, hidup saya, dan lain-lain.” Namun, sejak pandemi COVID-19, kita sebenarnya sudah sangat dekat dengan Cloud Service. IP phone, panggilan video konferensi, FaceTime, e-meeting dalam berbagai bentuk, dan Cloud Computing, semuanya adalah bagian dari layanan cloud. Cara organisasi berkolaborasi dan berkomunikasi pun kini telah berubah.

Rapat on-site di kantor atau bepergian untuk bertemu rekan kerja atau pelanggan kini telah digantikan oleh solusi video konferensi dengan hasil yang setara. Organisasi kini sangat bergantung pada alat kolaborasi untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, baik saat bekerja dari rumah (working from home (WFH)), di kantor, maupun saat bepergian.

Banyak bisnis memiliki kombinasi perangkat keras, perangkat lunak, dan pusat data yang ditambahkan seiring waktu. Karena itu, penting untuk melihat lebih dalam dan memahami keterkaitan di antaranya, karena layanan cloud kini ada di sekitar kita. Kita pun perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan yang mungkin muncul dari penggunaan layanan cloud.

Bagaimana Cara Kerja Kolaborasi Cloud di Masa Kini?

Beralih ke cloud tidak harus menjadi solusi yang serba atau tidak sama sekali. Banyak organisasi telah melakukan investasi besar pada infrastruktur on-premises mereka, dan kini memanfaatkan pendekatan hybrid, memindahkan sebagian sistem ke cloud, sementara sistem lainnya tetap dijalankan di infrastruktur lokal.

Penerapan hybrid memungkinkan organisasi melakukan transisi ke cloud dengan kecepatan yang sesuai, sekaligus memaksimalkan investasi yang sudah ada. Menurut riset dari Nemertes Research, “Hybrid memungkinkan organisasi mengadopsi cloud secara strategis, dengan gangguan yang lebih sedikit serta akses yang lebih cepat ke kemampuan tertentu seperti rapat dan kolaborasi tim melalui cloud.”

blog-cloud collaboration

Apa Kunci Utama untuk Beralih ke Hybrid Cloud?

Berikut adalah tabel pertimbangan saat merencanakan pemilihan penyedia layanan Hybrid Cloud. Jumlah VM (Virtual Machine) memang merupakan salah satu faktor penting, namun hal yang lebih krusial adalah kebutuhan akan tingkat latensi bagi para pengguna layanan Anda.The quantity of VM is one of the factors to concern, but another more important thing is, the requirement of the latency for those clients who will use your services.

Dalam skenario dengan kurang dari 50 VM, penggunaan SSD all-flash adalah solusi yang paling sesuai jika latensi yang dibutuhkan harus di bawah 500 mikrodetik.

Namun, jika jumlah VM melebihi 50 dengan tuntutan latensi yang sama, maka diperlukan NVMe all flash array, dan jika jumlah VM melebihi 100, Anda bahkan mungkin perlu mempertimbangkan penggunaan jumlah NVMe drive yang lebih besar.

Meskipun begitu, hal ini tidak berarti Anda harus menggunakan sistem full-flash secara keseluruhan. Seperti yang terlihat pada contoh di bawah, penggunaan SSD cache hybrid juga bisa menjadi solusi yang cocok bagi lingkungan yang tidak memerlukan latensi sangat rendah, misalnya tidak perlu di bawah 10 mikrodetik. Bahkan jika Anda masih menggunakan HDD SAS tradisional, selama kebutuhan latensinya sekitar 50 mikrodetik untuk kurang dari 50 VM, Anda tetap bisa mengakses dan memanfaatkan layanan cloud dengan baik.

blog-table of storage drive latency

Kesimpulan

Berdasarkan tabel di atas, Anda dapat melihat dengan jelas bahwa terdapat tiga zona utama. Seiring dengan peningkatan skala dari sisi kiri ke kanan, jenis drive yang digunakan perlu ditingkatkan atau jumlahnya ditambah.

Kondisi latensi tersebut dibedakan berdasarkan jenis aplikasi dalam lingkungan cloud, sementara jumlah VM mengacu pada layanan yang akan Anda sediakan bagi pelanggan. Namun, satu hal yang umum adalah bahwa solusi NVMe akan selalu menjadi tujuan akhir untuk memenuhi kebutuhan semacam ini.

Khusus untuk VM database, mulai dari VM ke-51, Anda sudah harus mulai menggunakan NVMe drives. Meskipun jumlah NVMe yang digunakan tidak perlu terlalu banyak di tahap awal, namun kebutuhan latensi di segmen ini sudah tidak dapat dipenuhi oleh SSD biasa.

blog-file-sharing-applications

Untuk aplikasi File Sharing, penggunaan NVMe drives pada akhirnya akan diperlukan seiring dengan pertumbuhan jumlah VM dan kebutuhan latensi yang rendah. Sedangkan untuk aplikasi Backup, penggunaan storage hybrid yang terdiri dari HDD dan beberapa SSD, atau bahkan array full SSD, sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan latensi yang diperlukan.

Topik ini tidak lagi terbatas pada kekhawatiran perusahaan berskala besar saja, SMB / Usaha Kecil dan Menengah (UKM) kini juga perlu mulai mempertimbangkannya secara serius sebagai bagian dari upaya pertumbuhan berkelanjutan. Seiring dengan perkembangan teknologi, dunia semakin bergerak menuju tren kolaborasi berbasis cloud, yang menjadikan kesiapan terhadap transformasi digital sebagai kebutuhan utama bagi semua skala bisnis.Sebagai perusahaan SMB / UKM, jangan menunggu hingga bisnis Anda mencapai skala besar, karena saat itu bisa jadi sudah terlambat. Anda sudah dapat mulai menerapkan konsep yang sama seperti yang digunakan oleh perusahaan berskala besar ke dalam infrastruktur pusat data (data center) skala SMB / UKM sejak dini.

Ikuti tabel dan panduan yang tersedia, keduanya akan membantu Anda menemukan arah dengan lebih mudah. Persiapkan diri Anda terhadap dampak dari transformasi di tingkat perangkat keras penyimpanan. Hybrid storage akan menjadi langkah awal untuk memulai, dan NVMe all-flash merupakan tujuan akhir di generasi saat ini.

Cloud or On-Premises?

Official Blog

Latest Trends and Perspectives in Data Storage Management